Situs Resmi IKABI expired??

Posted by Erik Prabowo under Uncategorized

Bulan lalu tepatnya pada tanggal 24 September 2008 saat saya mencoba membuka situs RESMI IKABI (Ikatan Ahli Bedah Indonesia) di www.ikabisurgeon.com saya dikejutkan oleh halaman yang terbuka. Bukannya web situs resmi dari IKABI  yang biasa saya buka yang tampil, tapi sebuah tulisan yang berbunyi This domain name expired on 2008-09-20.

Saya masih belum percaya, saya coba untuk membuka Google, saya coba search dengan kata kunci : situs resmi ikabi, situs resmiahli bedah indonesia. Dari hasil pencarian yang keluar itulah saya mencoba kembali pada situs resmi IKABI melalui link yang muncul pada google search, ternyata hasilnya sama, halaman yang biasanya saya lihat tidak muncul berganti dengan tulisan tersebut.

Sampai pada saat tulisan ini saya tulis, www.ikabisurgeon.com belum dapat diakses, dan tulisan yang sama masih tetap muncul. Sungguh sangat disayangkan, informasi dibidang bedah di Indonesia yang memang sangat minim sekarang salah satunya sudah bukan saja terbengkalai tapi mati.

Saya sangat berharap kepada  pihak yang bertanggung jawab dan yang terkait agar dapat segera mengembalikan situs yang merupakan SITUS RESMI IKABI tersebut.

Apa yang paling membuat Ilmu Bedah Maju?

Posted by Erik Prabowo under Gizi

Sepulang dari Kursus TNT ( Total Nutritional Therapy ) di Bali telah merombak pemikiran dan pemahaman saya selama ini. Sebagai dokter yang berkecimpung dibidang pembedahan selama ini hanya ada tiga hal utama yang selalu menjadi pemikiran saya yang membawa kemajuan pada Ilmu Bedah, yaitu : Kontrol perdarahan yang baik, kontrol nyeri yang baik, dan kontrol infeksi yang baik.

Sekarang pemikiran saya kembali terbuka, dan ini mengingatkan saya kembali akan filosofi dasar seorang Dokter : Medical is science and art ( kedokteran itu merupakan gabungan dari ilmu dan seni ) jadi ilmu kedokteran tidak berada pada batasan hitam atau putih yang tegas, namun seringkali berada diantaranya daerah abu-abu, dan ilmu kedokteran selalu berkembang tidak ada kebenaran yang mutlak.

Ketiga hal yang membuat kedokteran maju tanpa dukungan nutrisi yang baik tentunya akan percuma. Coba bayangkan, operasi dengan perdarahan minimal, teknik yang baik, kontrol infeksi yang baik, namun gizi tidak diperhatikan, luka operasi dapat sulit sembuh, mudah infeksi, dan tentu saja sangat membahayakan kesehatan dan nyawa pasien. Dalam hal ini tentu saja dibutuhkan pengetahuan yang baik dari tenaga medis dan pemberian informasi yang baik pada pasien dan keluarga.

Di Masyarakat Jawa ada suatu mitos yang membahayakan : sehabis operasi “diharamkan” makan telur dan daging. Pada kenyataannya semuanya itu merupakan sumber protein yang baik, dan protein tentu saja dibutuhkan dalam penyembuhan luka. Sekali lagi bukan berarti ini 100% salah, bagi orang yang alergi terhadap telur atau ikan atau protein tertentu, tentu saja hal ini menjadi pantangan baginya. Ingat sekali lagi Medical is science and art.

Bagi anda yang akan melakukan tindakan bedah (terutama yang tergolong operasi besar) konsultasikanlah kepada dokter anda mengenai hal ini. Dokter anda akan mengenali apakah anda dalam golongan yang potensial mengalami masalah gizi setelah atau bahkan sebelum operasi dan langkah apa yang harus diambil.

Satu problem lain yang cukup penting : seorang dokter biasanya akan menghitung kebutuhan gizi pasiennya baik melalui jalur mulut ataupun pembuluh darah balik via infus, nah bagi jalur mulut (enteral) maka dokter akan memberikan permintaan kepada bagian gizi untuk menyediakan makanan dengan kandungan gizi tertentu dalam bentuk sediaan tertentu, dan bagian gizi akan menyediakannya bagi anda. Lalu apa masalahnya : Jujur saja masalah cita rasa seringkali kurang diperhatikan, banyak pasien yang mengeluh rasa makanan yang kurang enak, “kita yang sehat saja gak doyan, apalagi yang sakit ?” Ucapan seperti ini seringkali terlontar.

Konon gaji seorang Chef ( juru masak) di Hotel adalah no 2 dibawah gaji seorang Manager ( bener nggak? Katanya sih begitu :) kalau saya pribadi sangat setuju, bahkan alasan utama saya memilih menginap dihotel tertentu adalah karena sarapannya, contohnya di Jogja saya paling demen hotel Santika karena Pancake-nya Top banget he..he.. :D ) Nah apakah rumah sakit mau menyewa juru masak Top dengan gaji dibawah seorang Direktur?

Terlepas dari itu semua. Kesadaran akan pentingnya Gizi harus menjadi perhatian kita semua.

Pamit 4 Hari… (29 Mei - 1 Juni 08)

Posted by Erik Prabowo under Kursus

Buat teman -teman sekalian saya pamit dulu empat hari ini mungkin tidak bisa membalas komentar rekan -rekan.

Ada kursus di Bali! Sekalian liburan he..he.. :) Sekembalinya dari Bali nanti mudah-mudahan ada ilmu yang bisa saya bagikan, terimakasih…

Eh..tapi kalau ada kesempatan mampir ke warnet, pastinya Blogging tetap jalan lah ya… ;)

KONSULTASI

Posted by Erik Prabowo under Konsultasi

Selama lima tahun berkecimpung di dunia perBedahan, ada satu hal yang sangat mengganggu saya. Ketakutan terbesar yang datang dari pasien dan keluarga adalah karena KETIDAKTAHUAN. Informed consent (persetujuan setelah penjelasan) yang baik biasanya akan memberikan rasa tenang yang lebih bagi pasien (tentunya tidak dapat menghilangkan, saya sendiri pernah operasi amandel takutnya bukan main :p ). Jadi berbagi pengetahuan tentang bedah melalui Blog ini saya rasa akan dapat memberikan sedikit sumbangan pada orang banyak, mengenalkan apa itu Bedah, dan meyakinkan kita semua untuk segera mencari pertolongan kepada dokter Bedah pada saat yang tepat (seringkali terlambat - datang pada saat sudah parah).

Khusus untuk yang mau konsultasi, silahkan disini ya… biar yang lain juga bisa baca dan ikut mengambil manfaatnya.

Atau kalau kebetulan ada topik post saya yang menarik dan kebetulan sesuai dengan permasalahan anda silahkan bertanya lewat form komentarnya. Mudah-mudahan bisa bermanfaat buat semuanya :) .

Bleeding
Before modern surgical developments, there was a very real threat that a patient would bleed to death before treatment, or during the operation. cauterization (fusing a wound closed with extreme heat) was successful but limited - it was destructive, painful and in the long term had very poor outcomes. Ligatures, or material used to tie off severed blood vessels, are believed to have originated with Ambroise Pare (sometimes spelled “Ambrose”) during the 16th century, but were highly dangerous until infection risk was brought under control - at the time of its discovery, the concept of infection did not exist. Finally, early 20th century research into blood groups allowed the first effective blood transfusions.

Infection
The concept of infection was unknown until relatively modern times. The first progress in combating infection was made in 1847 by the Hungarian doctor Ignaz Semmelweis who noticed that medical students fresh from the dissecting room were causing excess maternal death compared to midwives. Semmelweis, despite ridicule and opposition, introduced compulsory handwashing for everyone entering the maternal wards and was rewarded with a plunge in maternal and fetal deaths, however the Royal Society in the UK still dismissed his advice. Significant progress came following the work of Pasteur, when the British surgeon Joseph Lister began experimenting with using phenol during surgery to prevent infections. Lister was able to quickly reduce infection rates, a reduction that was further helped by his subsequent introduction of techniques to sterilize equipment, have rigorous hand washing and a later implementation of rubber gloves. Lister published his work as a series of articles in The Lancet (March 1867) under the title Antiseptic Principle of the Practice of Surgery. The work was groundbreaking and laid the foundations for a rapid advance in infection control that saw modern aseptic operating theatres widely used within 50 years (Lister himself went on to make further strides in antisepsis and asepsis throughout his lifetime).

Pain
Modern pain control (anesthesia) was discovered by two American dentists, Horace Wells (1815-1848) and William Morton. Before the advent of anesthesia, surgery was a traumatically painful procedure and surgeons were encouraged to be as swift as possible to minimize patient suffering. This also meant that operations were largely restricted to amputations and external growth removals. Beginning in the 1840s, surgery began to change dramatically in character with the discovery of effective and practical anaesthetic chemicals such as ether and chloroform, later pioneered in Britain by John Snow. In addition to relieving patient suffering, anaesthesia allowed more intricate operations in the internal regions of the human body. In addition, the discovery of muscle relaxants such as curare allowed for safer applications.
Subscribe to