Sepulang dari Kursus TNT ( Total Nutritional Therapy ) di Bali telah merombak pemikiran dan pemahaman saya selama ini. Sebagai dokter yang berkecimpung dibidang pembedahan selama ini hanya ada tiga hal utama yang selalu menjadi pemikiran saya yang membawa kemajuan pada Ilmu Bedah, yaitu : Kontrol perdarahan yang baik, kontrol nyeri yang baik, dan kontrol infeksi yang baik.
Sekarang pemikiran saya kembali terbuka, dan ini mengingatkan saya kembali akan filosofi dasar seorang Dokter : Medical is science and art ( kedokteran itu merupakan gabungan dari ilmu dan seni ) jadi ilmu kedokteran tidak berada pada batasan hitam atau putih yang tegas, namun seringkali berada diantaranya daerah abu-abu, dan ilmu kedokteran selalu berkembang tidak ada kebenaran yang mutlak.
Ketiga hal yang membuat kedokteran maju tanpa dukungan nutrisi yang baik tentunya akan percuma. Coba bayangkan, operasi dengan perdarahan minimal, teknik yang baik, kontrol infeksi yang baik, namun gizi tidak diperhatikan, luka operasi dapat sulit sembuh, mudah infeksi, dan tentu saja sangat membahayakan kesehatan dan nyawa pasien. Dalam hal ini tentu saja dibutuhkan pengetahuan yang baik dari tenaga medis dan pemberian informasi yang baik pada pasien dan keluarga.
Di Masyarakat Jawa ada suatu mitos yang membahayakan : sehabis operasi “diharamkan” makan telur dan daging. Pada kenyataannya semuanya itu merupakan sumber protein yang baik, dan protein tentu saja dibutuhkan dalam penyembuhan luka. Sekali lagi bukan berarti ini 100% salah, bagi orang yang alergi terhadap telur atau ikan atau protein tertentu, tentu saja hal ini menjadi pantangan baginya. Ingat sekali lagi Medical is science and art.
Bagi anda yang akan melakukan tindakan bedah (terutama yang tergolong operasi besar) konsultasikanlah kepada dokter anda mengenai hal ini. Dokter anda akan mengenali apakah anda dalam golongan yang potensial mengalami masalah gizi setelah atau bahkan sebelum operasi dan langkah apa yang harus diambil.
Satu problem lain yang cukup penting : seorang dokter biasanya akan menghitung kebutuhan gizi pasiennya baik melalui jalur mulut ataupun pembuluh darah balik via infus, nah bagi jalur mulut (enteral) maka dokter akan memberikan permintaan kepada bagian gizi untuk menyediakan makanan dengan kandungan gizi tertentu dalam bentuk sediaan tertentu, dan bagian gizi akan menyediakannya bagi anda. Lalu apa masalahnya : Jujur saja masalah cita rasa seringkali kurang diperhatikan, banyak pasien yang mengeluh rasa makanan yang kurang enak, “kita yang sehat saja gak doyan, apalagi yang sakit ?” Ucapan seperti ini seringkali terlontar.
Konon gaji seorang Chef ( juru masak) di Hotel adalah no 2 dibawah gaji seorang Manager ( bener nggak? Katanya sih begitu
kalau saya pribadi sangat setuju, bahkan alasan utama saya memilih menginap dihotel tertentu adalah karena sarapannya, contohnya di Jogja saya paling demen hotel Santika karena Pancake-nya Top banget he..he..
) Nah apakah rumah sakit mau menyewa juru masak Top dengan gaji dibawah seorang Direktur?
Terlepas dari itu semua. Kesadaran akan pentingnya Gizi harus menjadi perhatian kita semua.